Ngelo, Margomulyo — Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Ngelo kembali menggelar Naharul Ijtima’, Sabtu (29/8/2026), bertempat di Masjid Al-Hidayah, Dusun Jeruk, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut berlangsung khidmat, hangat, dan penuh semangat kebersamaan warga Nahdliyin.
Naharul Ijtima’ menjadi salah satu momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi, memperkokoh jam’iyyah, sekaligus menjadi ruang bersama bagi jajaran NU, badan otonom, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga untuk membangun kebersamaan dalam menjalankan khidmah di tengah masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh segenap jajaran NU beserta badan otonom, Kepala Desa Ngelo, lima kepala dusun, jajaran perangkat desa, serta masyarakat Desa Ngelo. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya sinergi antara jam’iyyah NU, pemerintah desa, dan masyarakat dalam menjaga tradisi kebersamaan serta kehidupan sosial-keagamaan di Desa Ngelo.
Dibuka dengan Al-Qur’an dan Semangat Kebangsaan
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, yang menjadi pembuka penuh keberkahan bagi seluruh jamaah. Suasana kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu perjuangan Nahdlatul Ulama, Syubbanul Wathan.
Dua lagu tersebut seakan menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada agama dan kecintaan kepada tanah air merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam tradisi perjuangan Nahdlatul Ulama. Semangat hubbul wathan minal iman terus menjadi energi bagi warga NU untuk menjaga persatuan, kerukunan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan tahlil yang dipimpin oleh Kiai Paniran, Rais Syuriyah NU Ranting Ngelo. Pembacaan tahlil berlangsung khusyuk, menjadi momentum jamaah untuk mendoakan para pendahulu, ulama, muassis, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat yang telah mendahului.
Kepala Desa Apresiasi Konsistensi Warga NU Ngelo
Memasuki sesi sambutan, Kepala Desa Ngelo, Tri Maryono, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Naharul Ijtima’ sekaligus atas antusiasme warga NU Ngelo yang terus menjaga tradisi berkumpul dan berkhidmah.
Menurutnya, konsistensi warga NU dalam mengikuti berbagai kegiatan keagamaan merupakan modal penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang guyub, rukun, dan memiliki kepedulian sosial.
Apresiasi tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa keberadaan NU di tengah masyarakat bukan hanya berkaitan dengan kegiatan keagamaan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun persatuan, menjaga kerukunan, serta memberikan kontribusi positif bagi kehidupan sosial kemasyarakatan.
Mauidzoh Hasanah: Mensyukuri Kemerdekaan dan Meneladani Rasulullah
Puncak kegiatan diisi dengan mauidzoh hasanah yang disampaikan oleh Kiai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema tentang pentingnya mensyukuri kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 sekaligus mengambil hikmah dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kiai Badrun mengajak jamaah untuk memahami bahwa kemerdekaan merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri, bukan sekadar dengan ucapan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata: menjaga persatuan, menghormati jasa para pahlawan, merawat kedamaian, serta mengisi kemerdekaan dengan amal yang bermanfaat.
Allah SWT berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. Ibrahim: 7)
Menurut beliau, ayat tersebut memberikan pesan bahwa syukur harus menjadi sikap hidup. Kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu harus dijaga dan diisi dengan hal-hal yang membawa kemaslahatan. Kebebasan yang dimiliki hari ini hendaknya digunakan untuk beribadah, bekerja, belajar, membangun keluarga, memperkuat ekonomi masyarakat, serta menjaga persaudaraan.
Lebih jauh, Kiai Badrun mengaitkan rasa syukur atas kemerdekaan dengan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW. Rasulullah ﷺ merupakan teladan utama dalam membangun masyarakat yang beradab, bersatu, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Allah SWT menegaskan:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”(QS. Al-Ahzab: 21)
Kiai Badrun menjelaskan bahwa memperingati Maulid Nabi tidak cukup hanya dengan memperbanyak pujian kepada Rasulullah ﷺ. Yang lebih penting adalah menghidupkan akhlak dan sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”(HR. Al-Baihaqi)
Hadis tersebut, menurut beliau, menjadi landasan penting bahwa keberagamaan harus melahirkan akhlak. Semakin seseorang mencintai Rasulullah ﷺ, semestinya semakin baik pula perilakunya kepada Allah, kepada sesama manusia, kepada tetangga, dan kepada lingkungan.
Kiai Badrun juga mengingatkan bahwa kemerdekaan dan Maulid Nabi sama-sama mengandung pesan tentang perjuangan. Para pahlawan berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan, sementara Rasulullah ﷺ berjuang membebaskan manusia dari kejahiliahan menuju kehidupan yang berlandaskan tauhid, ilmu, keadilan, dan akhlak.
Karena itu, generasi penerus tidak boleh hanya menikmati hasil perjuangan para pendahulu, tetapi harus meneruskan nilai perjuangannya.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, beliau mengajak warga NU Ngelo untuk terus menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. Perbedaan pilihan, latar belakang, maupun kepentingan tidak boleh menjadi alasan untuk memutus tali persaudaraan.
Spirit tersebut sejalan dengan pesan ulama yang sangat masyhur:
مَنْ لَا يَهْتَمُّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ
“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan NU harus senantiasa dibangun di atas kepedulian. Khidmah bukan sekadar aktivitas organisasi, melainkan bentuk pengabdian kepada agama, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Doa Bersama untuk Muktamar NU ke-35
Pada bagian akhir tausiyah, Kiai Badrun juga mengajak seluruh jamaah untuk berdoa bersama demi kesuksesan pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Jombang, Jawa Timur.
Jamaah diajak memanjatkan doa agar seluruh rangkaian Muktamar NU berjalan lancar, aman, tertib, dan menghasilkan keputusan-keputusan terbaik bagi kemajuan jam’iyyah Nahdlatul Ulama serta kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.
Doa bersama tersebut menjadi penutup yang sarat makna. Dari Masjid Al-Hidayah Dusun Jeruk, warga NU Ranting Ngelo menunjukkan bahwa kepedulian terhadap NU tidak mengenal jarak. Muktamar yang berlangsung di Jombang menjadi perhatian bersama seluruh Nahdliyin, karena keputusan-keputusan yang lahir dari forum tertinggi tersebut diharapkan mampu membawa NU semakin kuat dalam menjalankan amanah keumatan dan kebangsaan.
Naharul Ijtima’ NU Ranting Ngelo akhirnya tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merawat tradisi, memperkuat silaturahmi, menumbuhkan rasa syukur atas kemerdekaan, meneladani akhlak Rasulullah ﷺ, serta meneguhkan komitmen warga NU untuk terus istiqamah dalam khidmah.
Semangat yang tumbuh dari Masjid Al-Hidayah diharapkan terus menjalar dalam kehidupan masyarakat Desa Ngelo: bersatu dalam ukhuwah, teguh dalam aqidah, santun dalam akhlak, dan istiqamah dalam khidmah.









