Naharul Ijtima’ NU Ranting Ngelo: Memupuk Syukur Kemerdekaan, Meneladani Rasulullah, dan Mendoakan Muktamar NU ke-35

naharul-ijtima-nu-ranting-ngelo-memupuk

Ngelo, Margomulyo — Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Ngelo kembali menggelar Naharul Ijtima’, Sabtu (29/8/2026), bertempat di Masjid Al-Hidayah, Dusun Jeruk, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut berlangsung khidmat, hangat, dan penuh semangat kebersamaan warga Nahdliyin.

Naharul Ijtima’ menjadi salah satu momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi, memperkokoh jam’iyyah, sekaligus menjadi ruang bersama bagi jajaran NU, badan otonom, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga untuk membangun kebersamaan dalam menjalankan khidmah di tengah masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh segenap jajaran NU beserta badan otonom, Kepala Desa Ngelo, lima kepala dusun, jajaran perangkat desa, serta masyarakat Desa Ngelo. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya sinergi antara jam’iyyah NU, pemerintah desa, dan masyarakat dalam menjaga tradisi kebersamaan serta kehidupan sosial-keagamaan di Desa Ngelo.

Dibuka dengan Al-Qur’an dan Semangat Kebangsaan

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, yang menjadi pembuka penuh keberkahan bagi seluruh jamaah. Suasana kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu perjuangan Nahdlatul Ulama, Syubbanul Wathan.

Dua lagu tersebut seakan menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada agama dan kecintaan kepada tanah air merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam tradisi perjuangan Nahdlatul Ulama. Semangat hubbul wathan minal iman terus menjadi energi bagi warga NU untuk menjaga persatuan, kerukunan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan tahlil yang dipimpin oleh Kiai Paniran, Rais Syuriyah NU Ranting Ngelo. Pembacaan tahlil berlangsung khusyuk, menjadi momentum jamaah untuk mendoakan para pendahulu, ulama, muassis, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat yang telah mendahului.

Kepala Desa Apresiasi Konsistensi Warga NU Ngelo

Memasuki sesi sambutan, Kepala Desa Ngelo, Tri Maryono, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Naharul Ijtima’ sekaligus atas antusiasme warga NU Ngelo yang terus menjaga tradisi berkumpul dan berkhidmah.

Menurutnya, konsistensi warga NU dalam mengikuti berbagai kegiatan keagamaan merupakan modal penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang guyub, rukun, dan memiliki kepedulian sosial.

Apresiasi tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa keberadaan NU di tengah masyarakat bukan hanya berkaitan dengan kegiatan keagamaan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun persatuan, menjaga kerukunan, serta memberikan kontribusi positif bagi kehidupan sosial kemasyarakatan.

Mauidzoh Hasanah: Mensyukuri Kemerdekaan dan Meneladani Rasulullah

Puncak kegiatan diisi dengan mauidzoh hasanah yang disampaikan oleh Kiai Badrun, Ketua MWCNU Margomulyo. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema tentang pentingnya mensyukuri kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 sekaligus mengambil hikmah dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kiai Badrun mengajak jamaah untuk memahami bahwa kemerdekaan merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri, bukan sekadar dengan ucapan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata: menjaga persatuan, menghormati jasa para pahlawan, merawat kedamaian, serta mengisi kemerdekaan dengan amal yang bermanfaat.

Allah SWT berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)

Menurut beliau, ayat tersebut memberikan pesan bahwa syukur harus menjadi sikap hidup. Kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu harus dijaga dan diisi dengan hal-hal yang membawa kemaslahatan. Kebebasan yang dimiliki hari ini hendaknya digunakan untuk beribadah, bekerja, belajar, membangun keluarga, memperkuat ekonomi masyarakat, serta menjaga persaudaraan.

Lebih jauh, Kiai Badrun mengaitkan rasa syukur atas kemerdekaan dengan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW. Rasulullah ﷺ merupakan teladan utama dalam membangun masyarakat yang beradab, bersatu, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Allah SWT menegaskan:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Kiai Badrun menjelaskan bahwa memperingati Maulid Nabi tidak cukup hanya dengan memperbanyak pujian kepada Rasulullah ﷺ. Yang lebih penting adalah menghidupkan akhlak dan sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Al-Baihaqi)

Hadis tersebut, menurut beliau, menjadi landasan penting bahwa keberagamaan harus melahirkan akhlak. Semakin seseorang mencintai Rasulullah ﷺ, semestinya semakin baik pula perilakunya kepada Allah, kepada sesama manusia, kepada tetangga, dan kepada lingkungan.

Kiai Badrun juga mengingatkan bahwa kemerdekaan dan Maulid Nabi sama-sama mengandung pesan tentang perjuangan. Para pahlawan berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan, sementara Rasulullah ﷺ berjuang membebaskan manusia dari kejahiliahan menuju kehidupan yang berlandaskan tauhid, ilmu, keadilan, dan akhlak.

Karena itu, generasi penerus tidak boleh hanya menikmati hasil perjuangan para pendahulu, tetapi harus meneruskan nilai perjuangannya.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, beliau mengajak warga NU Ngelo untuk terus menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. Perbedaan pilihan, latar belakang, maupun kepentingan tidak boleh menjadi alasan untuk memutus tali persaudaraan.

Spirit tersebut sejalan dengan pesan ulama yang sangat masyhur:

مَنْ لَا يَهْتَمُّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan NU harus senantiasa dibangun di atas kepedulian. Khidmah bukan sekadar aktivitas organisasi, melainkan bentuk pengabdian kepada agama, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Doa Bersama untuk Muktamar NU ke-35

Pada bagian akhir tausiyah, Kiai Badrun juga mengajak seluruh jamaah untuk berdoa bersama demi kesuksesan pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Jombang, Jawa Timur.

Jamaah diajak memanjatkan doa agar seluruh rangkaian Muktamar NU berjalan lancar, aman, tertib, dan menghasilkan keputusan-keputusan terbaik bagi kemajuan jam’iyyah Nahdlatul Ulama serta kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.

Doa bersama tersebut menjadi penutup yang sarat makna. Dari Masjid Al-Hidayah Dusun Jeruk, warga NU Ranting Ngelo menunjukkan bahwa kepedulian terhadap NU tidak mengenal jarak. Muktamar yang berlangsung di Jombang menjadi perhatian bersama seluruh Nahdliyin, karena keputusan-keputusan yang lahir dari forum tertinggi tersebut diharapkan mampu membawa NU semakin kuat dalam menjalankan amanah keumatan dan kebangsaan.

Naharul Ijtima’ NU Ranting Ngelo akhirnya tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merawat tradisi, memperkuat silaturahmi, menumbuhkan rasa syukur atas kemerdekaan, meneladani akhlak Rasulullah ﷺ, serta meneguhkan komitmen warga NU untuk terus istiqamah dalam khidmah.

Semangat yang tumbuh dari Masjid Al-Hidayah diharapkan terus menjalar dalam kehidupan masyarakat Desa Ngelo: bersatu dalam ukhuwah, teguh dalam aqidah, santun dalam akhlak, dan istiqamah dalam khidmah.

Saat Hati Diuji, Istiqomah Menjadi Kunci: Tausiyah Penuh Hikmah di Kajian Rutin Muslimat NU Ngelo


Ngelo, Margomulyo – Jum'at, 07 Agustus 2026. Suasana penuh khidmat menyelimuti Balai Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, saat Pimpinan Ranting Muslimat NU Ngelo kembali menggelar Kajian Rutin yang dilaksanakan setiap Jum'at Legi bakda Shalat Jum'at. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar untuk memperkuat keimanan, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta meningkatkan kualitas ibadah masyarakat, khususnya kaum ibu Muslimat NU.

Naharul Ijtimak NU Ranting Ngelo: Merawat Tradisi, Menguatkan Nilai-Nilai Kebaikan


Ngelo – Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Ngelo bersama seluruh Badan Otonom (Banom) kembali menggelar kegiatan Naharul Ijtimak pada Sabtu, 29 November 2025. Bertempat di Balai Desa Ngelo, kegiatan yang dimulai pukul 09.00 hingga 11.30 WIB ini berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan.

Nahārul Ijtimā’ NU Ranting Ngelo: Menggali Hikmah Amalan yang Mengangkat Derajat Manusia di Sisi Allah


Ngelo – Suasana religius dan penuh kekhidmatan menyelimuti Musholla Baitul Makmur Tolu, Desa Ngelo, pada Sabtu (04/10/2025).

Kiyai Badrun Tegaskan: “Kemenangan Hakiki Adalah Kemandirian Ekonomi Umat” dalam Kajian Muslimat NU Ngelo

Ngelo, Margomulyo – Jumat, 9 Mei 2025

Balai Desa Ngelo menjadi tempat berkumpulnya semangat kebersamaan dan kepedulian ekonomi umat dalam kajian bertema “Kemenangan Hakiki: Mandiri Ekonomi, Kuatkan Umat” pada hari Jumat, 9 Mei 2025 pukul 13.00–15.00 WIB.

Naharul Ijtima’ NU Ranting Ngelo: "Menguatkan Khidmah, Menyatukan Jamaah di Masjid Al-Ikhlas Matar"

Ngelo – Sabtu pagi yang cerah, 28 Juni 2025, suasana Masjid Al-Ikhlas Dusun Matar, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo, mendadak lebih semarak dari biasanya.

Ziarah Wali Jatim, Muslimat NU Ranting Ngelo Teladani Perjuangan Para Ulama dan Wali Allah

Bojonegoro — Dalam rangka memperkuat spiritualitas dan meneladani perjuangan para ulama serta wali Allah, Muslimat NU Ranting Ngelo melaksanakan kegiatan Ziarah Wali Jawa Timur pada Ahad, 11 Mei 2025, mulai pukul 19.30 WIB.

“Silaturahmi dan Pembelajaran: Bimbingan Keagamaan Muslimat NU di Desa Ngelo”


Pada hari Ahad, 27 Oktober 2024, Dusun Jeruk, Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo menjadi saksi atas terlaksananya kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang diselenggarakan oleh Jamaah Muslimat NU Anak Ranting Jeruk.

Warga Dusun Jipangulu Gotong Royong Membangun Aula Makam Mbah Santri

Jipangulu, 29 September 2024 – Warga Dusun Jipangulu hari ini bersama-sama bergotong royong membangun aula makam Mbah Santri, salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Kegiatan ini berlangsung pada hari Ahad, 29 September 2024, dengan penuh semangat kebersamaan dan kekompakan.

Acara gotong royong ini diikuti oleh Kepala Dusun Jipangulu, perangkat dusun, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga masyarakat setempat. Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan tingginya rasa kepedulian dan kebersamaan warga dalam mendukung pembangunan fasilitas yang memiliki nilai sejarah dan religius.

Dana untuk pembangunan aula tersebut sepenuhnya berasal dari swadaya masyarakat Dusun Jipangulu. Penggalangan dana dilakukan secara sukarela, dengan partisipasi dari seluruh lapisan warga. Semangat gotong royong dan rasa tanggung jawab bersama terhadap peninggalan sejarah inilah yang menjadi landasan kuat terlaksananya pembangunan ini.

Menurut keterangan warga setempat, Mbah Santri diyakini secara turun temurun sebagai seorang Waliyullah, seorang santri dari Sunan Kudus yang ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Jipangulu dan sekitarnya. Beberapa warga menyebutnya dengan nama "Raden Santri," menggambarkan kedudukan dan peran pentingnya dalam sejarah lokal. Keberadaan makam Mbah Santri memiliki nilai spiritual yang tinggi bagi warga Dusun Jipangulu, menjadikannya salah satu tempat ziarah yang dihormati.


Pembangunan aula ini merupakan tindak lanjut dari beberapa fasilitas yang telah dibangun sebelumnya, sebagai bagian dari upaya memperbaiki dan melestarikan area makam Mbah Santri. Aula yang tengah dibangun ini diharapkan dapat menjadi tempat yang representatif bagi para peziarah dan warga yang datang untuk berdoa atau sekadar mengenang sejarah Mbah Santri.

Semangat gotong royong yang ditunjukkan oleh warga Dusun Jipangulu ini menjadi contoh nyata dari nilai-nilai kebersamaan yang masih kuat terjaga di masyarakat, sekaligus menjadi upaya menjaga warisan sejarah dan agama di wilayah tersebut.

Pembangunan aula makam ini juga diharapkan dapat menjadi sarana yang lebih memadai bagi warga dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Selain sebagai tempat untuk kegiatan doa bersama dan ziarah, aula tersebut nantinya juga dapat difungsikan untuk berbagai acara keagamaan, seperti pengajian atau peringatan hari-hari besar Islam, yang kerap diadakan oleh warga setempat.

Tarmuji, Kepala Dusun Jipangulu, dalam sambutannya saat memulai kegiatan gotong royong, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh warga yang telah berkontribusi, baik tenaga, waktu, maupun dana. Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan ini tidak lepas dari partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. "Ini adalah bukti bahwa kita masih memegang teguh semangat kebersamaan dan saling membantu, seperti yang diajarkan oleh leluhur kita. Semoga ini membawa berkah bagi kita semua," ujarnya.

Selain itu, beberapa tokoh agama yang turut hadir juga menyampaikan pentingnya merawat situs-situs sejarah keagamaan, seperti makam Mbah Santri, sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah berjuang dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Mereka berharap bahwa generasi muda dapat terus melanjutkan upaya-upaya ini dengan penuh kesadaran akan nilai-nilai sejarah dan agama.

Proses pembangunan aula diperkirakan akan selesai dalam beberapa bulan ke depan, dengan pengerjaan yang dilakukan secara bertahap, sesuai dengan ketersediaan dana dan tenaga dari masyarakat. Namun, semangat gotong royong yang sudah terbukti selama ini membuat warga optimis bahwa proyek ini akan selesai tepat waktu.

Warga Dusun Jipangulu juga berharap bahwa pembangunan ini dapat semakin memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan keagamaan di dusun mereka. Aula ini tidak hanya menjadi simbol fisik dari kebersamaan mereka, tetapi juga menjadi cerminan dari penghormatan mereka terhadap sejarah dan tokoh-tokoh agama yang telah berjasa besar di masa lalu.

Pembangunan aula makam Mbah Santri ini, dengan segala upaya yang dilakukan secara bersama-sama, merupakan bukti nyata bahwa masyarakat Dusun Jipangulu terus berkomitmen untuk menjaga warisan leluhur dan melestarikan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para pendahulu. Gotong royong ini bukan hanya wujud kepedulian terhadap fasilitas umum, tetapi juga manifestasi dari cinta mereka terhadap sejarah, agama, dan kebersamaan.

Pembangunan aula makam ini juga diharapkan dapat menjadi sarana yang lebih memadai bagi warga dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Selain sebagai tempat untuk kegiatan doa bersama dan ziarah, aula tersebut nantinya juga dapat difungsikan untuk berbagai acara keagamaan, seperti pengajian atau peringatan hari-hari besar Islam, yang kerap diadakan oleh warga setempat.